(INFO ZAMZAM) – Kegiatan pelatihan manasik haji para santri kelas IX SMP MBS Zam-Zam –Pondok Pesantren Modern PPM) Zam Zam Muhammadiyah Cilongok berlangsung dua hari (Selasa-Rabu/ 17-18/05/2022), dibimbing oleh Tim pelatih manasik dari KBIH Muhammadiyah Banyumas yang dipimpin oleh Drs. H. Muchson. Untuk tempat bimbingan dan latihan maktab santri putra di masjid Baitul Matien, sedangkan santri putri di aula pondok putri. Adapun tempat peragaan untuk palaksanaan latihan manasik baik dari bermalam di Mina, Padang Arafah, mengambil kerikil di Muzdalifah, tempat melontar jumroh, thawaf, syai dari Shafa ke Marwa dilaksanakan di lapangan Desa Pernasidi.

Sebagaimana diketahui, bahwa ibadah Haji merupakan rukun Islam ke 5, sehingga para santri perlu diberikan motivasi agar di benak mereka mulai tertanamkan niat berhaji. Terlebih masa tunggu untuk bisa berangkat haji di Indonesia ini berkisar antara 25 sampai 30 tahun. Jika para santri yang orang tuanya mampu, sejak sekarang didaftarkan, maka pada masanya keberangkatan, umur mereka telah mencapai 45 tahun. Menurut Kepala SMA MBS Zam-Zam, Ustadz Drs, M. Djohar, M.Pd., itu merupakan umur yang sangat ideal untuk menunaikan ibadah yang notabene membutuhkan perjuangan dengan segala aspeknya.

“Kita berharap, dengan adanya pelatihan ini, di benak para santri akan timbul greget dan keinginan untuk melaksanakan ibadah haji di tahun yang akan datang atau di masa mendatang. Bisa saja bagi santri yang orang tuanya mampu, mereka bisa langsung meminta orang tuanya agar mendaftarkan haji dari sekarang, Sehingga dengan masa tunggu 25-30 tahun itu nanti setelah tiba masanya berangkat, meraka telah berumur sekitar 45 tahun, itu usia yang sangat ideal untuk melaksanakan ibadah haji,” terangnya. Dijelaskan, urgensinya kegiatan ini, juga agar para santri mengetahui tata cara beribadah haji. Serta untuk menanamkan nilai-nilai ibadah haji. Karena, banyak sekali nilai-nilai yang bisa ditanamkan yaitu, penanaman akidah, ibadah dan akhlak. Di dalam teori manasik haji itu disampaikan mengenai pentingnya akidah, kemudian menyangkut tata cara ibadah yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Tidak kalah pentingnya tentang penanaman nilai-nilai akhlak. Nilai kebersamaan atau ukhuwah. Di mana antara satu dengan yang lain itu harus saling mambantu dan saling menolong di dalam ibadah haji. “Dan semua itu nilai-nilai yang sangat baik, yang bisa diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Seperti bagaimana berbicara yang baik, menjaga pembicaraan yang baik, selain itu menanamkan nilai kasih sayang. Sebab dalam berhaji itu, begitu setelah mengenakan pakaian ikhram, maka tidak boleh membunuh binatang sampai mencabut rumput dan berkata kotor. “Dengan pelatihan manasik haji ini, juga untuk meningkatkan pemahaman dan ketrampilan peserta didik terhadap ibadah haji, memotivasi anak untuk menyempurnakan rukun Islam yakni melaksanakan ibadah Haji,” tandas utadz Djohar. (h)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.