Wakil Direktur 2, Ustaz Semi Priyatno, S.Pd., dalam pertemuan wali santri putra SMP MBS Zam-Zam, kembali mengingatkan pentingnya meluruskan kembali niat, dalam hal ini sebagai wali santri dalam memondokkan putra-putrinya. Dikarenakan, katanya, terkadang masih ada saja cara pandang wali santri terhadap anaknya yang sedang mondok dengan pandangan keliru. Semisal, masih dijumpai ada wali santri yang terkesan masa bodoh, pasrah bongkokan, over thinking dan overlapping.

“Kategori pertama orang tua yang masa bodoh, artinya mereka tidak mau tahu tentang pendidikan anaknya di pesantren. Bahkan berlebihan dalam ketidakpeduliannya terhadap anaknya di pesantren, sehingga sering tidak atau kurang tanggung jawab atas kewajiban atas anaknya yang sedang mondok,” ungkapnya.
Dijelaskan, dalam ajaran al Qurán, sebagai orang tua wajib memahami kedudukan anak itu sendiri. Ada empat kategori yaitu, anak sebagai penenang hati, anak sebagai perhiasan dunia, anak sebagai fitnah dan ujian serta anak menjadi musuh.
Diharapkan oleh Wadir 2, agar semua pihak, termasuk wali santri, harus sadar bahwa pendidikan adalah yang utama dan prioritas, di samping juga harus memahami dan menyadari kelemahan dirinya.
“Pondok pesantren sejatinya bukan lagi pendidikan alternatif. Saat ini, dan sejatinya sejak awal, pendidikan pesantren adalah prioritas utama. Karena semua pihak harus sadar bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan tertua dalam sejarah pendidikan di Indonesia,”
Adapun pandangan wali santri yang benar agar cita-cita mereka dalam mendidik putra-putrinya tercapai dengan baik, seraya mengutip pesan K.H. Hasan Abdullah Sahal, tentang bagaimana seharusnya para wali santri bersikap tentang memondokkan anaknya di pesantren. Menurut beliau, ada lima tips, yaitu TITIP. Yaitu kepanjangan dari Tega, Ikhlas, Tawakkal, Ikhtiar, dan Percaya.
“Tega atau ridho bagi wali santri untuk anaknya dididik di pesantren. Selain itu harus ikhlas. Yakni keikhlasan wali santri dan santri sebagai instrumen kunci untuk meraih keberhasilan. Ikhlas dididik, ditempa, dibina, dilatih, dibentuk, diarahkan, dibimbing, dikurangi jam tidurnya, ditambah jam belajar dan ibadahnya,” Urainya.
Setelah tega (ridho), ikhlas, tawakkal, maka konsekuensi berikutnya adalah ikhtiar. Yakni lebih kepada konsekuensi logis tanggung jawab pembiayaan oleh orang tua (wali santri). Serta percaya dengan sistem pendidikan yang dijalankan. *h



