Banyumas, INFOZAMZAM- Amaliyah tadris di Pondok Pesantren merupakan ujian praktik mengajar terhadap adik kelas. Menurut Ketua Panitia, Ustaz Muhammad Hasan, SS., M.Pd., mulai tahun ajaran 2025-2025 praktik amaliyah tadris ditingkatkan dalam bentuk Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di jam pelajaran sekolah pagi/ siang. Dengan materi delapan mata pe

lajaran. Meliputi Bahasa Inggris, Aqidah, Bahasa Arab, Al Islam, Nahwu, Shorof, Fiqih, dan Al Quran. Obyeknya para santri SMP kelas 7 dan 8. Begitu juga untuk tahun ajaran 2026-2027 dan insya Allah tahun-tahun berikutnya.

Dijelaskan, pelaksanaan Amaliyah Tadris tahun ini berlangsung selama dua pekan, sejak Senin – Jumát (31 Agustus – 11 september 2026) – Sebanyak 230 santri putra putri dari kampus 1, 2 dan 3. Di bawah pendampingan 24 guru pamong, para santri ‘menjadi guru’untuk KBM sesuai mapel yang dipilih.
“Dari delapan mapel itu masing –masing mapel dengan jumlah santri praktikan sebagai berikut. Bahasa Arab 43 praktikan; nahwu sebanyak 30 praktikan; Shorof 28 praktikan; Fiqih 28 praktikan; Aqidah 30 praktikan; Al Islam 28 praktikan; Bahasa Inggris 32 praktikan dan Al Quran 11 praktikan. Masing-masing ada yang mengajar di kelas 7 dan sebagian di kelas 8,” terang Kepala Asrama Kampus 1.
Tunjukan Kompetensi Holistic
Mudir MBS Zam-Zam, Ustaz Arif Fauzi, Lc., M.Pd. berharap, agar para santri praktikan semaksimal mungkin dapat menunjukkan kompetensi di bidang materi yang disampaikan kepada adik kelas. Walaupun dengan pertemuan waktu yang tidak lama, tapi itu akan diserap dalam memori kenangan adik kelas.
Dijelaskan juga, bahwa semua kegiatan yang diikuti kelas 12, termasuk amaliyah tadris ini, sebagai bagian pembelajaran yang sangat h

olistic integrative. Para pelajar yang tidak pernah mengenyam pendidikan di pondok, barangkali mereka hanya mendapatkan bekal intelektual saja. Artinya kompetensinya parsial.

“Sedangkan kompetensi santri yang mondok di MBS Zam-Zam itu pembelajarannya bersifat holistic, karena proses penggemblengennya selama 24 jam,” papar Ustaz Arif.
Beliau mencontohkan di sebuah sekolah lanjutan, dimana di sekolah itu di dalamnya ada sebagian kecil siswa alumni santri termasuk dari MBS Zam-Zam. Akan tetapi dari jumlah yang kecil itu keberadaannya sangat berdampak positif dan membawa pengaruh baik di sekolah lanjutan itu.
“Apalagi jika kalian sudah mondok sampai enam tahun di MBS Zam-Zam, idealnya harus ada sesuatu yang bedampak untuk diri kalian dan untuk lingkungan kelak,”pungkasnya.
Sementara itu, Ketua PCM Cilongok sekaligus perwakilan Badan Pembina Pesantren, Ir. H. Wahyudianto memberikan pesan kepada santri kelas 12 dalam praktik mengajar ini tidak sekadar seremonial saja. Melainkan harus benar-benar dipersiapkan secara matang. Agar hasilnya menjadi salah satu kegiatan untuk dijadikan tolok ukur sosok kader, yang memiliki fungsi sebagai penerus dan penyempurna Amal Usaha Muhammadiyah.
“Tampilah dengan percaya diri. Apa yang disampaikan bisa dipahami oleh audiens,”pungkasnya. *h



